Apakah Tubuhmu Membutuhkan Vitamin
Apakah Tubuhmu Membutuhkan Vitamin? Kenapa sih kita perlu repot-repot minum vitamin? Nenek moyang kita dulu bisa hidup sehat tanpa suplemen, kenapa kita nggak? Jawabannya gampang: coba lihat isi dapurmu! Makanan yang kita konsumsi sekarang jauh berbeda dari makanan alami yang mereka makan dulu. Makanan yang diproses tinggi, diawetkan, dipasteurisasi, dikemas dalam kaleng, dan makanan cepat saji membuat vitamin alami dalam makanan lebih sedikit bertahan.
Memang ada sebagian orang yang masih menanam sayur sendiri atau memetik buah langsung dari pohonnya, tapi kebanyakan dari kita mengandalkan buah dan sayur dari supermarket. Sayangnya, buah dan sayur yang kelihatannya segar di toko itu sudah kehilangan sebagian nutrisinya sejak dipetik. Semakin lama apel dan tomat tidak menempel di pohonnya, semakin banyak vitamin yang hilang saat diproses dan dikirim ke toko.
Tubuh kita butuh vitamin untuk memperkuat sistem imun, mencegah flu dan penyakit lainnya, bahkan menjaga suasana hati tetap stabil. Kurang vitamin juga bisa berdampak besar, lho! Misalnya, kalau kamu kekurangan vitamin tertentu, darahmu mungkin lebih sulit membeku saat luka. Intinya, vitamin punya peran lebih besar dari yang kita kira, sementara pola makan kita sekarang seringkali nggak mencukupi kebutuhan vitamin yang diperlukan tubuh.
Apakah Multivitamin Solusi yang Tepat?
Mengonsumsi multivitamin memang bisa membantu, tapi jangan langsung percaya kalau satu pil multivitamin sehari sudah cukup memenuhi 100% kebutuhan tubuhmu. Kebanyakan multivitamin di pasaran hanya memenuhi jumlah total yang dianjurkan, bukan jumlah optimal dari setiap jenis vitamin. Selain itu, banyak multivitamin yang dicampur bahan tambahan dan pengawet. Jadi, kalau mau yang lebih alami dan lengkap, lebih baik cari suplemen dari toko makanan sehat atau apotek yang menjual suplemen alami tanpa bahan tambahan yang nggak perlu.
Sebagai contoh, mari kita bahas vitamin B. Vitamin B itu ada banyak jenisnya, dan dua yang paling sering dibahas adalah B6 dan B12. Vitamin B6 berperan dalam pembentukan sel darah merah, sedangkan B12 membantu meningkatkan energi dan mencegah penyakit Alzheimer. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, sebaiknya konsumsi vitamin dalam bentuk paling murni.
Sejarah Singkat Vitamin
Vitamin pertama kali “ditemukan” oleh ilmuwan dan dokter bedah sekitar tahun 1914. Kata “vitamin” sendiri berasal dari kata “vital”, yang berarti sangat penting bagi kehidupan. Tapi jauh sebelum itu, di tahun 1600-an, para pelaut sudah tahu bahwa makan buah jeruk bisa mencegah penyakit kudis. Baru belakangan diketahui bahwa itu karena jeruk mengandung vitamin C.
Sekarang, banyak vitamin tersedia dalam bentuk cair. Ingat minyak ikan cod yang rasanya nggak enak itu? Nah, sekarang banyak vitamin yang bisa diminum dengan sendok dan rasanya jauh lebih enak, jadi nggak perlu lagi “tersedak” saat minum suplemen.
Bisa Nggak Sih, Kelebihan Vitamin?
Sebelum buru-buru beli berbagai macam vitamin, kamu perlu tahu kalau kelebihan vitamin juga bisa berdampak buruk. Vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B dan C memang akan dikeluarkan lewat urine jika dikonsumsi berlebihan. Tapi, vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin D dan E bisa menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan efek samping seperti diare, mual, muntah, dan ruam kulit.
Apa yang Harus Dilakukan?
Sebaiknya konsultasikan dulu dengan ahli gizi atau dokter untuk mengetahui apakah kamu benar-benar kekurangan vitamin tertentu. Dengan begitu, kamu bisa lebih hemat dan hanya membeli vitamin yang benar-benar dibutuhkan dalam dosis yang tepat. Lebih baik konsumsi vitamin secara terpisah sesuai kebutuhan tubuh daripada mengandalkan satu pil multivitamin yang belum tentu cukup untuk semua kebutuhan tubuhmu.
DISCLAIMER: Artikel ini hanya untuk informasi dan edukasi, bukan pengganti nasihat medis profesional. Jika kamu memiliki pertanyaan atau kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau tenaga medis yang kompeten.